untitled
viviti
media online warga kota depok
published by Komunitas BA-depok
 

 



:: Info dan Pemasangan Iklan ::

informasi@depok-online.com


Redaksi :  editor@depok-online.com


19 September 2006

Kinerja Aparat Birokrasi Lapis Bawah

Masyarakat Kota Depok sangat berharap banyak kepada 'pemerintahan' baru yang duduk di Balaikota Depok. Harapan untuk segera mereformasi kinerja aparatnya dalam melayani warga sehari-hari.

Sayangnya, harapan akan adanya perubahan yang signifikan, yang salah satunya ditandai dengan berubahnya mental dilayani menjadi budaya melayani,  tampaknya  masih jauh panggang dari api.

Tengoklah bagaimana layanan aparat pemerintah lapis bawah di seantero Kota Depok. Di Kantor kelurahan  misalnya. Sudahkah reformasi kinerja melayani mereka berhasil  'merasuk' ke seluruh jajaran garda terdepan Pemkot dalam melayani warganya ini ?.

Sudahkah mereka menyadari fungsi kerjanya, dan memperbaiki etos kerjanya agar tidak ada lagi masyarakat Depok yang menjadi 'bulan-bulanan' tiap kali berurusan dengan kantor pemerintah ini. Layanan yang cepat dan bebas dari biaya siluman adalah salah satu parameternya. Belum lagi konsistensi mereka terhadap jam kerja, baik jam masuk maupun pulang.  Sudah 'public oriented' kah?. Jangan-jangan masih sama dengan yang dulu-dulu,  atau  bahkan lebih buruk lagi?.

Pengalaman beberapa warga yang sempat kami catat, saat berurusan dengan aparat  lapis bawah, yang sering diminta tolong oleh para warga dalam mengurus berbagai macam keperluannya tersebut, sepertinya belum ada perubahan orientasi layanan di antara mereka. Masih banyak layanan yang 'bertele-tele', terkesan 'kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah', dan biaya-biaya 'siluman' yang masih merajalela.

Sebaiknya program perbaikan layanan kepada masyarakat menjadi prioritas utama dari Pemkot Depok, agar  harapan dan optimisme yang timbul dengan adanya 'kabinet' baru di Kota mungil ini, tidak sirna begitu saja. Sikap tegas Walikota Depok sangat diperlukan untuk merubah mental seluruh bawahannya, termasuk para aparat kelurahan di seantero Depok.


14 September 2006

Boeat Perhatian Pemkot Depok..

Kapan ye jalan-jalan yg belobang bakal ditambel?. bentar lagi khan puasa?.
Ape hubungannye puasa ame lobang jalan?
Orang lagi puasa khan kalo naek angkot jalannya belobang tambah lemes tau.
 
Tapi beneran, aye ude kagak sabar nih.
Sabar donk
Kagak sabar, udeh kelamaan nunggunye.
Sing sabar. Sekarang kali lagi ditenderin.
Tender koq lama banget.
Ah elu, kaye kagak perneh ikut tender aje.
Emang lu ude pernah..?
Perneh, aye perneh ikut naik motor tender
Itu mah motor thunder. payah lu.
 
Jadi kire-kire kapan neh mo ditambel itu lobang?.
Kagak tau.
Kapan..?
Kagak tau. Lu koq makse.
Gue kagak makse. Gue nanye doang.
Lu tanye aje ame walikote sono.
Ah masa gitu aje gue kudu tanye walikote
Abis.., loe  makse aje sih. Gue bilang sabar kagak ngarti.
Aye udeh gemes. Tiap hari liat lobang2 ngange di jalan
Ya jangan diliatin. Tutup mate.
Ntar gue kejeblos.
Gak pape. Elu ini yang kejeblos, bukan walikote.
 
(sampai dengan tulisan ini dibuat,  sebagian besar jalan-jalan di seputaran depok masih didominasi oleh lubang-lubang yang menganga. Sudah beberapa kali korban jiwa melayang akibat 'nyemplung' di lubang-lubang tersebut)
 

Urgensi RS Umum Daerah          
 
Sayang sekali, memasuki usianya yang sudah agak 'tua' ini, Kota Depok, sebuah kota mungil tempat sebuah Universitas Negeri ternama bermukim, masih belum memiliki sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang refresentatif dan  bisa melayani segenap warganya yang memerlukan layanan kesehatan. Samapi saat ini pembangunan RSUD Depok beum jelas kapan akan selesai dan mulai dioperasikan.
 
Memang, saat ini ada beberapa Rumah Sakit Swasta yang sudah berdiri di kota ini, tetapi kehadiran sebuah RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah, Red) tetap saja akan selalu dinantikan, terutama oleh warga yang secara 'ekonomis' belum tersentuh oleh layanan Rumah Sakit Swasta selama ini.
 
Kenapa belum tersentuh?. Berbagai alasan bisa menjadi kemungkinan, terutama masalah mahalnya biaya berobat, baik rawat jalan , apalagi rawat inap yang secara ukuran kantong sebagian masyarakat Depok yang berpenghasilan pas-pasan sangat tidak terjangkau.
 
Sepertinya sampai sat ini belum ada regulasi yang mengatur besaran tarif berobat, baik tarif dokter maupun tarif layanan Rumah Sakit lainnya. Yang menjadi 'korban' adalah para warga yang kebetulan sangat memerlukan layanan kesehatan secara cepat dan tidak memiliki pilihan lain selain harus merogoh kantongnya dalam-dalam, walaupun harus berutang sana-sini.
 
Kehadiran sebuah RSUD di Kota Depok diharapkan dapat menjadi 'penyeimbang' itu semua. RS pemerintah yang bermisi utama sosial dan melayani masyarakat luas ini akan menjadi 'pelepas dahaga' bagi para warga Kota Depok yang memerlukan layanan kesehatan dengan biaya murah, terjangkau tapi tetap dengan layanan yang  profesional.
 
Betapa pun beratnya halangan yang akan menghambat realisasi terwujudnya rencana ini (terutama masalah dana), Pemerintah Kota Depok sudah seharusnya untuk tetap memprioritaskan keberadaan berdirinya sebuah RS Umum Daerah ini sesegera mungkin.


Matinya Lampu Penerangan di Jalan Juanda Depok

Jalan Juanda Depok, yang menghubungkan Jalan Margonda dan Jalan Raya Bogor , saat ini keadaannya gelap gulita jika malam tiba.

Lampu penerangan jalan yang terpasang di median jalan tampak banyak yang tidak menyala.

Dikhawatirkan, gelapnya Jalan Raya ini akan menimbulkan kerawanan bagi para pengguna jalan yang 'terpaksa' harus melewati jalan tersebut di malam hari.

Banyak warga yang berharap pihak Pemkot segera memperhatikan kondisi ini dan memperbaiki lampu-lampu penerangan jalan yang tidak menyala di sana.


 

SMP Islam Terpadu  Otodidak Islamic School  Depok




Web Hosting · Blog · Guestbooks · Message Forums · Mailing Lists
Easiest Website Builder ever! · Build your own toolbar · Free Talking Character · Email Marketing
powered by a free webtools company bravenet.com